“Hanya tinggal menunggu waktu sampai segala senyum berubah menjadi ketakutan tercekik masa. Kebahagiaan dan kesenangan yang hanya sekedar kegilaan semata. Harapan yang menjelma keputus-asaan.”
Waktu yang perlahan menggerogoti sisa-sisa umur segala apa yang hidup dan ada di dunia, menuntun menuju kematian yang sia-sia. Corak yang indah berubah menjadi noda kelam yang mendalam. Keheningan semu menyebar di mana-mana dalam wujud riuh gejolak dunia. Merasuk ke setiap jiwa yang merasa hidup.
(QS, Al-An’am:32)
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, tidakkah kamu mengerti?”
Kecemasan merajai ketentraman jiwa dalam redup padamnya cahaya, yang terganti oleh gemerlap dunia. Di mana malam tanpa bulan dan bintang. Tak ada lagi harap akan esok hari, tak ada lagi yang tersisa untuk memulai kembali, melainkan penyesalan nan abadi.
![]() |
| Foto: Properti pribadi |
Kuseruput kopi senjaku, sebelum matahari terendam dalam garis samudera di ujung sana. Menanti malam kelam yang akan menjelma kegelapan abadi, selamanya.
Hingga Ia kembali terbitkan sinar nan melampaui fajar pada hari sebelumnya. Kuseruput kopi sanjaku, sebelum tertidur untuk kembali bangun dari mimpi panjang nan nyata, melepas segala beban menyambut imbalan atas-(segala apa)-nya.
(QS, Ar-Rahman:26-27)
“Semua yang ada di bumi akan binasa” (26)
“Dan yang tetap kekal adalah dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (27)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar