Tanpa terasa waktu telah melahap sisa umurnya selama hampir dua tahun dalam
kisah perantauan dan akhirnya dia mulai bisa berkata,
"Aku sudah belajar, dan masih harus terus belajar" setelah dua puluh dua tahun berlalu, baru ia merangkai kalimat itu, walau sebelumnya ada tanpa sebuah kalimat yang rasanya pas.
![]() |
| Foto: properti pribadi |
Dua puluh dua tahun... setelahnya baru ia mulai kisah perantauan itu, 1 April 2015 lalu. Dimulai penerbangannya menuju Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Yang lalu, tanpa sengaja ia melanjutkan langkahnya menuju Surabaya, yang entah mengapa membuatnya terasa seolah, “aku melangkah dekat untuk pulang.” Entah bagian mana yang ia rasa "pulang".
Beberapa kali dia merasa tiada tempat untuk pulang, sesering itu pula dia merasa (hampir) sudah pulang. Walau masih menjadi teka-teki, tetap “aku sudah di depan teras rumahku, yang sangat luas, sebelum aku mengetuk pintu rumah dan lalu berkata, Assalamualaikum! Aku pulang!"
Seketika menetes airmata pada batin ketika melantunkannya dalam hatinya. Ada rindu yang tak terkira membanjiri relung hati dari bendungannya. Ada pondasi yang goyah seketika seolah habis dihajar gempa. Ada dinding yang retak lalu hancur lebur diamuk badai.
Semua itu karena persoalan ikhlas dan sabar. Yang perlahan di setiap paginya meruntuhkan segala ego. Sedikit demi sedikit. “Ahhh, aku rindu kopi seduhanku dulu, espresso. Satu shot dengan memakai delapan belas gram kopi dengan 80% robusta, 20% arabika, ditekan dengan kuat, lalu diekstrak menggunakan mesin piston, menghasilkan 30ml espresso selama 25 detik, dalam tekanan 5 bar tanpa profiling yang perlahan turun menjadi 3 bar,” gumamnya.
“Ahh... segala puji bagi Allah
yang telah menjadikan segala sesuatunya menjadi ingatan manis pada akhirnya.
Selayaknya kopi nan pahit namun meninggalkan rasa manis dalam ‘rasa’.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar