2 Des 2017

Memori Kopi

Setelah tegukan pertama

Foto: didapat dari Google
Wahai langit malam yang bersandar pada rembulan
Engkau berpuisi bersama bintang-bintang nan menawan
Dan indahnya kesunyian langitNya nan rupawan

Tatkala rindu menyapa
Sejuta kasih meraba
Perih enggan mengalah
Mengundang tangis nan terbendung dalam

Terkenang wajah lembut Ibu
Terkenang wajah sang lelaki tegar, Ayah
Terkenang dua saudara kandungku
Dan aroma tanah kelahiranku


 

Rasa
Yang kemudian menghanyutkanku dalam ribuan memori yang terekam dalam ingatan. Menyentuh. Membuai hanyut dalam aksara nan indah. Menuntun kembali apa yang hilang dan terlupakan, mengingatkan hati yang terselimuti ego diri.

After taste
Yang lalu menawarkan jutaan makna yang membekas untuk dipelajari. Meninggalkan kesan penuh “rasa” yang tak mungkin diingkari, menjaga kesadaran-kesadaran agar tidak meredup-menghilang pada jejak-jejak langkah di belakang sana.

Sebuah catatan
Sebelum kembali melanjutkan langkah, menuju mimpi-mimpi akan kesadaran-kesadaran manusiawi berdasarkan kuasa Ilahi yang penuh akan misteri. Membawa segala rasa dari apa yang sudah dilewati dan didapat, menjadikan bekal untuk perjalanan selanjutnya di mana diri ‘kan singgah, dan untuk obat tidur yang ‘kan membimbing jiwa pada mimpi-mimpi indah.
 

Tidak ada komentar: