Setelah tegukan pertama
![]() |
| Foto: didapat dari Google |
Wahai langit malam yang bersandar
pada rembulan
Engkau berpuisi bersama
bintang-bintang nan menawan
Dan indahnya kesunyian langitNya
nan rupawan
Tatkala rindu menyapa
Sejuta kasih meraba
Perih enggan mengalah
Mengundang tangis nan terbendung
dalam
Terkenang wajah lembut Ibu
Terkenang wajah sang lelaki
tegar, Ayah
Terkenang dua saudara kandungku
Dan aroma tanah kelahiranku
Rasa
Yang kemudian menghanyutkanku
dalam ribuan memori yang terekam dalam ingatan. Menyentuh. Membuai hanyut dalam
aksara nan indah. Menuntun kembali apa yang hilang dan terlupakan, mengingatkan
hati yang terselimuti ego diri.
After taste
Yang lalu menawarkan jutaan makna
yang membekas untuk dipelajari. Meninggalkan kesan penuh “rasa” yang tak
mungkin diingkari, menjaga kesadaran-kesadaran agar tidak meredup-menghilang
pada jejak-jejak langkah di belakang sana.
Sebuah catatan
Sebelum kembali melanjutkan
langkah, menuju mimpi-mimpi akan kesadaran-kesadaran manusiawi berdasarkan
kuasa Ilahi yang penuh akan misteri. Membawa segala rasa dari apa yang sudah
dilewati dan didapat, menjadikan bekal untuk perjalanan selanjutnya di mana diri
‘kan singgah, dan untuk obat tidur yang ‘kan membimbing jiwa pada mimpi-mimpi
indah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar