2 Des 2017

Renjana kopi


Proses... dulunya, aku tidak menyukai sebuah proses, aku bahkan tak mengerti apa itu atau bagaimana cara dan rasanya menikmati proses. Bagaimana kita tahu jika kita sedang menikmatinya. Bagaimana belajar darinya. Perlahan, skenario menggiring diriku bagaikan domba yang sedang digembala oleh tuannya. Polos tanpa benar-benar mengetahui "maksud".

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuudh)” [QS. Al-An’aam  59].


Perjalanan yang kulalui, tak pernah benar-benar kumengerti walau pengertian dan maknanya kutemukan dan pelajari. Setiap harinya aku tak pernah merasa naik tingkat, justru membuatku selalu merasa nol, dan esoknya kembali dari nol, lalu berakhir pada angka yang sama, dan terus berulang.

Detik demi detik yang menggerogoti sisa umurku di dunia, menghidangkan ilmu-ilmu yang tiada habisnya, hingga batas ingatan untuk merekam dan mengingatnya tak sanggup menampung. Batas akan manusia yang bisa untuk "lupa".

Foto: Properti pribadi

Namun, di setiap detik itu akan selalu ada pengingatnya.

Kumulai hidupku dari nol.

Dimulai sebelum aku merantau, di tanah kelahiranku, Kota Padang, Sumatera Barat.

Aku harus membuat banyak kesalahan, aku harus. Yang akhirnya itu membawaku pada persiapan "mental"

Lalu aku bertemu dengan kopi, di mana aku belajar mengenai "rasa"

Dan hampir di saat yang bersamaan aku bergelut dengan dunia fotografi dan video, membuatku belajar tentang "sudut pandang"

Dan tempat persinggahanku menjadikanku belajar tentang ego, nafsu, keseimbangan, emosi, kesabaran, keikhlasan, ketabahan, dan kepercayaan.

Satu per-satu semua terangkum, satu per-satu alam terus menggiringku untuk terus belajar. Setiap kesalahan terjadi, ia memberikanku hukuman yang tak mampu kutebak.

Hingga kini, nanti dan seterusnya... aku tak pernah merasa lebih daripada angka "nol", dan semoga aku selalu menetap pada angka “nol” di mana keyakinan atas ilmu dan apapun yang ada di dunia yang kudapati, kutemui, dan kupelajari semata-mata itu hanya pemberian dari apa-apa yang menjadi milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja. Agar angka “nol” ini menjadikan pengingat dan kesadaran kepadaku agar tidak menjadi sesat dan salah jalan karena kesombongan atau kelupaan akan rasa syukur terhadap nikmatNya.

Renjana pada kopi yang tak terkalahkan dari setiap seruputnya, membawaku kepada keistimewaan rasa dan iman.

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit” [QS. Al-An’aam : 125].


Tidak ada komentar: