5 Des 2017

Kopi dan Hujan

Kini musim penghujan mulai mengguyur bumi Indonesia, setelah hari-hari musim kemarau t’lah berakhir untuk tahun ini. Nada-nadanya mulai turun dari langit secara berirama, membasahi tanah Nusantara ini, menebar aromanya nan sederhana dan menenangkan. Sering pula ia muncul Bersama-sama dengan membawa spectrum warna penuh pesona.

Rintik-rintik hujan Bersama awan-awan lembut kelabu, menggoda hasrat untuk menyeduh secangkir kopi hitam, dengan sedikit kepekatan rasa dan aromanya merayu-rayu kalbu ingin dinikmati menghabiskan waktu di kala hujan turun. Memancing pikiran-pikiran yang hendak menawarkan pemikiran-pemikiran luas tanpa batas, imajinasi liar yang membawa pada perspektif lainnya.
 
Foto: Sumber dari Google

Bicara soal musim, teringat olehku keluhan-keluhan banyak jiwa ketika musim kemarau masih menggelayuti hari. Keluh akan hawa panas dari teriknya matahari, bagaimana ia menguras keringat bercucuran, “gerah!” namun, ketika hujan mulai menemani menghilangkan kegerahan yang ada, keluhan-keluhan itu tetap senantiasa terlontar.

“Sambat”



Oh sungguh, betapa sedikitnya jiwa yang mempunyai rasa syukur. Mataku lalu terpaku pada rintik-rintik hujan itu, yang menampakkan sebagian gambaran akan wujud dari rasa nikmat yang ada, yang sudah diberikan Allah. Di mana nikmat yang sudah Ia berikan begitu melimpah, namun kita terkadang tak sanggup menerimanya sehingga menggenang di mana-mana, ibarat banjir yang terjadi, berawal dari ketidak-siapan kita dan kelalaian atas rasa lupa menjadikannya musibah yang melanda.

Namun, hujan bagiku tetaplah keberkahan. Bagaimanapun ia memberikan dampaknya, seperti apapun ia dipandang oleh manusia lainnya. Dan secangkir kopi ini melengkapi keberkahan rasa yang ada. Bagaimana tiap-tiap rasa memberikan berbagai macam bentuk nilai yang dapat dipetik pelajarannya. Salah satunya adalah, ketimbang keluhan-keluhan yang kita lontarkan, alangkah baiknya jika kita mampu mengalahkan ego dan sudut pandang kita, menghapus keluhan menjadi suatu doa atau kesadaran yang baik.

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan)…” (QS Al-A’raaf: 57)

Tidak ada komentar: