Kini musim
penghujan mulai mengguyur bumi Indonesia, setelah hari-hari musim kemarau t’lah
berakhir untuk tahun ini. Nada-nadanya mulai turun dari langit secara berirama,
membasahi tanah Nusantara ini, menebar aromanya nan sederhana dan menenangkan.
Sering pula ia muncul Bersama-sama dengan membawa spectrum warna penuh pesona.
Rintik-rintik
hujan Bersama awan-awan lembut kelabu, menggoda hasrat untuk menyeduh secangkir
kopi hitam, dengan sedikit kepekatan rasa dan aromanya merayu-rayu kalbu ingin
dinikmati menghabiskan waktu di kala hujan turun. Memancing pikiran-pikiran
yang hendak menawarkan pemikiran-pemikiran luas tanpa batas, imajinasi liar
yang membawa pada perspektif lainnya.
![]() |
| Foto: Sumber dari Google |
Bicara soal
musim, teringat olehku keluhan-keluhan banyak jiwa ketika musim kemarau masih
menggelayuti hari. Keluh akan hawa panas dari teriknya matahari, bagaimana ia
menguras keringat bercucuran, “gerah!” namun, ketika hujan mulai menemani
menghilangkan kegerahan yang ada, keluhan-keluhan itu tetap senantiasa terlontar.
“Sambat”
Oh sungguh,
betapa sedikitnya jiwa yang mempunyai rasa syukur. Mataku lalu terpaku pada
rintik-rintik hujan itu, yang menampakkan sebagian gambaran akan wujud dari
rasa nikmat yang ada, yang sudah diberikan Allah. Di mana nikmat yang sudah Ia
berikan begitu melimpah, namun kita terkadang tak sanggup menerimanya sehingga
menggenang di mana-mana, ibarat banjir yang terjadi, berawal dari
ketidak-siapan kita dan kelalaian atas rasa lupa menjadikannya musibah yang
melanda.
Namun, hujan
bagiku tetaplah keberkahan. Bagaimanapun ia memberikan dampaknya, seperti
apapun ia dipandang oleh manusia lainnya. Dan secangkir kopi ini melengkapi
keberkahan rasa yang ada. Bagaimana tiap-tiap rasa memberikan berbagai macam
bentuk nilai yang dapat dipetik pelajarannya. Salah satunya adalah, ketimbang
keluhan-keluhan yang kita lontarkan, alangkah baiknya jika kita mampu
mengalahkan ego dan sudut pandang kita, menghapus keluhan menjadi suatu doa
atau kesadaran yang baik.
Dan
Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan)…” (QS Al-A’raaf: 57)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar