30 Nov 2017

Ritus Kopi Pagiku



Kusalami pagiku

Ketika lantunan adzan Subuh menyapa membelai nurani

Kuhirup nafas yang dalam

Tuk segera mencumbu aroma udara pagi nan segar 

Foto: properti pribadi, sewaktu di sebuah kedai kopi, di Surabaya.

Seraya mengucapkan hamdallah, lalu kulepaskan langkah kaki menuju kamar mandi untuk segera mengambil wudhu. Kutunaikan ibadah wajib sholat Subuh, seraya berdoa, mensyukuri nikmat yang baru saja kudapat. Selagi menanti terbitnya sang fajar, kuresapi bersama secangkir kopi. Di sinilah sebuah ritus menyeduh kunikmati.

Menimbang tiap butir biji kopi yang lalu kugiling hingga menjadi serbuk kopi yang siap diseduh, serentak bersama pecahnya aroma surgawi menuju udara, menebar pesona ketenangan yang dalam, menembus saraf-saraf merambah semesta diri.

Bagian dari ritus ini yang benar-benar tak mampu kutolak adalah, seruput demi seruput pada kopi. Ketika ia tuntas ditunaikan kesegaran dari rasa nikmat pagiku terasa semakin menggoda untuk mengucapkan ribuan rasa syukur kepada sang kuasa, yang telah memberikan nikmatnya tanpa Batasan.

Salah satu ritus ibadahku kepada Tuhan melalui interaksiku dengan kopi.

(QS. Al-Baqarah:152) “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

Tidak ada komentar: